Jakarta, Potretsatu.com.- Sekretaris Jendral PP IPNU Agus Suherman Tanjung mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut mengawal implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar berjalan tepat sasaran, transparan, dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.01/03/26
Tanjung menegaskan bahwa publik perlu memahami secara utuh sumber dan pengelolaan anggaran negara, khususnya terkait program MBG. Ia menjelaskan bahwa anggaran pendidikan yang mencapai sekitar Rp700 triliun tidak terpusat pada satu pos, melainkan dikelola oleh sekitar 20 kementerian dan lembaga, serta sebagian ditransfer ke pemerintah daerah untuk mendukung program pendidikan di masing-masing wilayah.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendanaan program MBG tidak mengganggu anggaran pendidikan tersebut. Program ini justru bersumber dari efisiensi belanja negara sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, yang mencakup penghematan pada pos-pos yang tidak berdampak langsung ke masyarakat, seperti biaya rapat di hotel, studi banding luar negeri, pengadaan alat tulis kantor, sewa fasilitas, kegiatan seremonial, hingga percetakan.
Menurut Tanjung, MBG tidak hanya berbicara soal pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter generasi bangsa. “Generasi yang kuat membutuhkan tubuh yang sehat agar ilmu dapat tumbuh dan diwujudkan dalam kerja nyata. MBG bertujuan melahirkan generasi yang siap belajar, siap bekerja, dan siap memikul tanggung jawab,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini harus dipandang sebagai bagian dari strategi besar pembangunan manusia Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Dengan pemenuhan gizi yang baik, anak-anak Indonesia diharapkan memiliki daya saing yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan global.
Program MBG sendiri dilaksanakan melalui pemberian makanan bergizi di sekolah dan pesantren, serta bantuan gizi bagi balita dan ibu hamil atau menyusui yang berisiko stunting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan asupan gizi optimal memiliki kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan prestasi akademik yang lebih baik. Sebaliknya, malnutrisi dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif, kesehatan, hingga produktivitas ekonomi.
Sejalan dengan itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara konsisten menekankan pentingnya percepatan penanganan stunting dan pencegahan anemia sebagai bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Selain aspek kesehatan dan pendidikan, MBG juga memiliki dampak strategis dalam bidang ekonomi. Program ini mendorong keterlibatan pelaku usaha lokal seperti UMKM, petani, dan nelayan dalam rantai pasok pangan. Dengan demikian, MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan memperkuat ekonomi lokal.
“Karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengawal program ini. Pengawasan publik menjadi kunci agar MBG benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi generasi bangsa,” tutup Tanjung
(Riki)
