Dialektika Impunitas: Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Medan Laga Keadilan ‎

‎kota Tangerang, Potretsatu.com - "Dialektika" bukan sekadar ruang diskusi yang santun, melainkan arena pertentangan antara dua kekuatan yang saling membentur. Dalam narasi besar bangsa ini, tubuh perempuan hadir sebagai antitesis terhadap tesis patriarki yang menindas.

‎Menggunakan istilah ini mempertegas bahwa keberadaan perempuan bukan sekadar objek pasrah, melainkan kekuatan aktif yang sedang membenturkan logika kebebasan melawan logika dominasi. Ini adalah perlawanan filosofis yang tak mungkin didamaikan.sabtu( 21/03/2026)

‎Di sisi lain, "Impunitas" menjadi noktah hitam bagi kejahatan yang tak terhukum—sebuah fenomena di mana hukum tunduk di bawah tumit kekuasaan.

‎Dengan menyatukan feminisme dan isu impunitas, saya ingin melayangkan kritik radikal: bahwa patriarki di negeri ini tetap langgeng karena ia dilindungi oleh sistem hukum yang korup dan sengaja dibuat "lupa". 

‎Ini bukan sekadar perihal hak-hak perempuan, melainkan tentang kegagalan konstitusi dalam melindungi warga negaranya dari para pelanggar HAM.

‎Ketidakadilan di negeri ini nyatanya bersifat maskulin. Kekuasaan yang menindas, para pelanggar hak asasi, hingga birokrasi yang abai, sering kali berwajah patriarki. 

‎Perjuangan perempuan, dengan demikian, adalah perjuangan untuk meruntuhkan tembok kekebalan hukum (impunitas) yang selama ini dinikmati secara eksklusif oleh mereka yang bertahta di puncak hierarki.

‎Di negeri yang didera amnesia sejarah, menjadi perempuan yang melawan adalah kutukan sekaligus kehormatan.

‎Tubuh kami bukan sekadar daging; ia adalah peta pelanggaran HAM yang tak kunjung selesai dijahit oleh hukum yang tebang pilih. 

‎Kita hidup di bawah langit yang sama dengan para penjahat yang masih bebas menghirup udara kekuasaan, sementara ketidakadilan dipelihara layaknya pusaka di atas meja-meja birokrasi.

‎Setiap napas perlawanan adalah bentuk sabotase terhadap patriarki yang berkelindan dengan impunitas. 

‎Kami tidak sedang mencari belas kasihan; kami sedang menuntut retribusi atas setiap suara yang dibungkam paksa oleh sejarah. 

‎Di tanah di mana keadilan menjadi barang mewah, keberanian untuk berdiri tegak tanpa sujud pada sistem yang korup adalah bentuk perlawanan intelektual yang paling mematikan.

‎Kita adalah saksi hidup dari sebuah republik yang gagal memberikan perlindungan, namun terus-menerus menuntut kepatuhan

‎Oleh :Retno Diwanti 

‎Aktivis Perempuan Indonesia